Rabu, 12 Oktober 2016

Patah karnamu

Sudah Terlalu lama perihal menunggumu,
Berapa waktu lagi sampai mati yang harus kudapati.
Yang ada dalam pikirku juga hatiku ,jauhmu tak mengapa jikalau mampu kau bayar semua ucapanmu.
semua janji indahmu,disini dalam kesendirianku sering kali ku berpacu dengan kerinduan yang menyakitkan.
Masih sulit menahan gejolak ini entah bagaimana akhirnya nanti. Terkadang aku inginkanmu disisi, temani kekosongan fikirku yang parah dengan kesakitan.
Tapi ku pahami dirimu yang akan semakin buat diri lara
Mungkin hanya lewat pesan bila hati ini merindu,kabari sekedar tanya kecil,keadaanmu juga perasaanmu.

Seketika ku baringkan segenap hati dalam ruang  tersendiri, menyiutkan harapan tentang hati yang tak mampu merengkuh . Aku biasakan meski yang kusebut lara berjatuhan .
tak kunjung henti tentang apa pahammu,tantang  gerikmu yang buatku risau.
Ternyata kau bertahan diatas semua ini,dalam diriku juga dalam hatinya.entah apa maksudmu akan mengarang sandiwara atau apapun ,ku hanya membungkus emosi perih dalam kecilnya sukma. Bersuara lirih kala mata belajar derasnya hujan dipersimpangan jalan.
Belajar tersenyum setelah melihat semuanya hancur oleh angin senja. Menuliskan dalam hati tentang sebuah kepiluan,
Tentang runtuhnya perasaan,dan tentang patahnya harapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar