Kau adalah sajak dimana puisi2ku tertulis,seakan sulit terhenti bait bait menyusun.
Aku adalah pena dalam sudut lembaran putih ,isyaratkan bahagia juga duka
Kau alasanku rangkai sajakku,sehingga tak mungkin habis menari2 hingga terjatuh tersungkur kesakitan.
Salah mengiraku tentang dirimu dengan semua kata mesramu,yang ku kira sebuah kepastian akan harapan yang mungkin akan kita bangun.
aku pahamkan diri ini siapa? Mengarang melodi indah yang gamblang akan lara .aku sulit akhirimu jikalau masih berbaring ragaku dalam hawa kotamu.
Menghimpit perlahan selepas pesan yang kau berikan tepat tengah malam ,entahlah aku dengan dirimu,yang tak kau tau seharian ku nantikan dirimu dengan kabar manismu.memang manis akhirnya tapi tidak dengan namaku ,masih sama dengan melihat diri sendiri ,
yang bodoh setelah tau .yang tak mau menghindar kala sakit terus menerjang ,yang hilangkan logika hingga menyiksa terus dirasa.
Bagaimana ku hapuskanmu sekarang,jalanan besar hingga setapak pernah ku lalui bersamamu,teh teh hangat hingga dingin mnjadi mata bagi seorang perindu senja,,bagi diriku akan kehangatan dirimu juga dinginnya dirimu. Aku pahamkan diri atas semua yang kau lakukan
Kini lagi ku berlagu dalam henig nya pagi,aku bendung tetesan air mataku sampai ku tatap matamu,sampai disampingku ragamu .
aku ingin di sampingmu sekarang ini,menangis deru nikmati ujung lara di penghabisan nafasku .
Bahagiamu undangku dalam hanyutnya perih,mengikis perlahan mengiris hati hati yang tulus, tidak dengan kurangnya rasa cinta,,
Dia benar dengan dirinya,sedangku entah.hanya tak mau tapi tak bisa luapkan,,aku membencimu dengan semua hal yang kau berikan .
dengan potret2 kenang kita akan sebuah kaki yang terus melangkah bersama susur semua tepi tepi kota ini,,aku dan kamu adalah cinta,entahlah itu yang kurasakan.
bersanding kasih tanpa sebuah syarat ku nyanyikan di kotamu,,ya kita masih bersama sampai detik ini dan masih susur tepian kota,,itu hobiku denganmu,entah denganmu.
Aku bahagiakan diriku hanya dengan disampingmu,,bercandakan hati tentang rasa yang kian membuncah obati hari yang keruh akan kekalutan.
Aku adalah rindu yang tertinggal dalam tasmu,selalu bersamamu senantiasa di belakangmu sampai tergelatak di atas meja di ujung waktu,hanya bisa menunduk tanpa ada nyawa yang membangunkanku.
#riart
Tidak ada komentar:
Posting Komentar